Sabtu, 5 Mei 2012

ANTARA - Berita Terkini

ANTARA - Berita Terkini


Dubes sayangkan pesilat Indonesia absen di kejuaraan Belgia Terbuka

Posted: 05 May 2012 07:28 PM PDT

Atraksi bela diri pencak silat. (ANTARA/Yudhi Mahatma)

Berita Terkait

Brusel (ANTARA News) - Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia merangkap Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa, Arif Havas Oegroseno, menyayangkan atlet pencak silat Indonesia tidak tampil dalam kejuaraan pencak silat Belgia Terbuka di kota Anterwep, Sabtu hingga Minggu.

"Saya sudah minta ke Jakarta, agar pesilat dari Indonesia bisa ikut dalam kejuaraan," ujar Havas Oegroseno sebelum acara kejuaraan berlangsung kepada ANTARA London, Sabtu.

Dubes mengakui sayangnya Indonesia sudah sejak empat tahun lalu tidak dapat hadir dalam kejuaraan yang cukup besar di Eropa yang digelar untuk yang ke-17 kalinya.

Kejuaraan pencak silat yang diikuti lebih dari 100 peserta dari 11 negara diantaranya dari Austria, Perancis, Belanda, Jerman, Inggris, dan dari Asia Malaysia, Vietnam dan Jepang itu mempertandingkan 11 nomor putra dan putri dan nomer bebas.

Dubes mengakui dari segi diplomasi, pencak silat merupakan smart power diplomacy, atau soft power Indonesia dan juga kebudayaan Indonesia yang diproyeksikan di luar negeri, agar Indonesia lebih dikenal, ujarnya. Sayangnya Indonesia tidak dapat hadir, ujar Dubes padahal kejuaraan yang cukup bergengsi di Eropa yang kejuaraan yang sudah digelar untuk ke 17 kalinya diikuti pesilat professional dari berbagai negara.

Namun demikian, ujar Dubes panitia masih menghargai Indonesia dengan meminta kesediaannya untuk membuka secara resmi kejuaraan pencak silat yang keberadaannya di Belgia sudah sejak 30 tahun. "Saya masih senang dan mendapat penghargaan," ujar Dubes menambahkan bahwa sangat disayangkan sekali tidak ada satupun kelompok pencak silat yang datang.

Harapan saya, dengan digelarnya kejuaraan pencak silat yang diikuti oleh berbagai negara ini ada pemahaman yang lebih konfrehensif dan tidak hanya sekedar hadir, meskipun sangat diharapkan, ujarnya.

Namun secara lebih luas lagi adalah pencak silat merupakan bagian dari proyeksi smart dan soft power dan budaya Indonesia, ujarnya seperti halnya Amerika Serikat yang dikenal dengan Holywood, Mc Donald dan coca cola, Indonesia harusnya sudah bisa memproyeksikan seni budaya ke luar negeri.

"Tidak hanya Batik dan Angklung tetapi juga pencak silat dan kehadiran pemain Indonesia harus ada untuk mengisinya," ujarnya menambahkan bahwa jangan sampai pencak silat dikenal berasal dari Jepang atau negara lainnya.

Presiden Federasi Pencak Silat Belgia, Pieters Ludo mengakui bahwa kejuaraan pencak silat Belgia Terbuka yang diadakan untuk ke 17 kalinya tahun ini bertepatan dengan 30 tahun keberadaan pencak silat di Belgia.

Dikatakannya setiap tahun peserta kejuaraan terus bertambah, tahun ini dua negara yang baru pertama kali ikut yaitu Jepang dan Vietnam.

Sementara itu Deputi Sekjen Federasi Pencak Silat Malaysia (Pusaka) Osman Nok, mengatakan tahun ini Malaysia mengirim sebanyak 14 atlet mengikuti kejuaraan yang sejak empat tahun lalu Malaysia selalu keluar sebagai juara umum.

Vice presiden pencak silat Inggris, Irfan Al Rashid mengatakan Inggris mengirimkan lima pesilatnya dan diharapkan dengan tim kecil akan dapat menjuarai beberapa nomor dalam kejuaraan yang mempertandingkan 10 nomor.

Rob Branet, peserta dari Belanda mengakui bahwa pencak silat tidak saja merupakan seni belah diri dan olahraga tetapi juga memiliki philosofi yang sangat mendalam.

Rob Branet, kelahiran Semarang mengatakan bahwa ia menekuni olahraga pencak silat sejak usia belia dan sejak itu ia sangat menyukai dan sudah menyatu dengan dirinya dan diharapkannya anak anaknya juga dapat menyukai dan menyenangin seperti dirinya.

Sementara itu Presiden Federasi Pencak Silat Eropa, George L Fredriksz mengatakan perkembangan pencak silat di Eropa cukup pesat dan juga berbagai kejuaraan digelar setiap tahunnya. Ia sangat menghargai dengan digelarnya kejuaraan pencak silat oleh Belgia yang sudah diadakan untuk ke 17 kalinya, meskipun olahraga pencak silat berasal dari Indonesia.

Diharapkannya pencak silat terus berkembang dan tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mempromosikan seni belah diri yang merupakan bagian dari budaya Indonesia.

(ZG)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Mahasiswa ISI Denpasar pameran ke Makau

Posted: 05 May 2012 05:43 PM PDT

Denpasar (ANTARA News) - Wila Trilaksani Turker (20), mahasiswa semester IV jurusan seni lukis murni pada Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, mendapat kesempatan mengikuti pameran bertaraf internasional di Makau, China.

"Materi pameran seni lukis harus disediakan di tempat. Pameran itu akan berlangsung selama sebulan, 12 Mei-12 Juni 2012," kata Wila Trilaksani didampingi Pembantu Dekan III FSRD ISI Denpasar Anak Agung Tirta Rai di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, pameran bertaraf internasional juga melibatkan peserta dari berbagai negara di belahan dunia dengan mengusung tema tentang kupu-kupu yang dibuat dari media bahan makanan.

"Kegiatan tersebut digelar oleh MGM, sebuah hotel berbintang di China yang mempromosikan dan membuat karya lukis dari bahan makanan yang aman dikonsumsi manusia," ujar Wila Trilaksani.

Peserta satu-satunya dari Indonesia itu akan bertolak pekan depan, mengikuti kegiatan bertaraf internasional itu selama sebulan penuh.

Berdasarkan undangan dari pihak panitia, selain Indonesia peserta juga berasal dari berbagai negara di belahan dunia antara lain Inggris dan Amerika Serikat.

Anak Agung Tirta Rai menjelaskan, pihaknya dalam proses belajar mengajar juga mengajarkan kepada mahasiswa untuk menghasilkan karya seni itu menggunakan berbagai media, termasuk bahan makanan.

Bahkan tiga mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKP) FSRD ISI Denpasar mengembangkan produksi kertas gula, salah satu bahan makanan sebagai media melukis.

Ketiga mahasiswa dalam satu kelompok itu dalam program wirausaha mendapat bantuan modal sebesar Rp12 juta untuk pengembangan usaha tersebut.

Dengan demikian seniman dalam menghasilkan karya seni lukis bisa menggunakan berbagai media, tidak lagi hanya tertumpu pada kanvas, tutur Anak Agung Tirta Rai.

(I006/M026)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tiada ulasan:

Catat Ulasan