Khamis, 5 Januari 2012

Republika Online

Republika Online


Inilah Ciri Jajanan yang Sehat untuk Anak

Posted: 05 Jan 2012 07:27 AM PST

REPUBLIKA.CO.ID,  BOGOR -- Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya jajan makanan dan minuman yang bersih dan sehat. Sayangnya masih banyak orang tua belum tahu ciri jajanan yang bersih dan sehat. "Kebanyakan orang ingin anaknya jajan sehat. Tapi mereka seringkali tidak peduli," ujar pemerhati pangan, Istu Sutarti kepada Republika.

Jajanan yang sehat dapat dikenali dari sejumlah ciri. Pertama, jajanan tersebut minim kandungan bahan pengawet. Artinya jajanan yang akan dikonsumsi adalah jajanan segar yang dimasak dan langsung disantap. Misalnya, bakso, siomay, dan gado-gado. Orang tua sebaiknya menganjurkan anak-anak menghindari jajanan dalam kemasan. Apalagi bila jajanan yang dibeli mengandung warna atau bau yang mencolok.

Ciri lain mengenali jajanan sehat bisa dilihat dari lokasi jualan. Memilih tempat jajanan yang sehat bisa meminimalisir kemungkinan cemaran mikrobiologi pada makanan. Kendati begitu, tempat yang bersih saja belum cukup. Jajanan  yang dibeli juga harus dimasak dan disajikan dengan cara yang baik.

Istu mencontohkan, minyak yang digunakan untuk menggoreng tidak dipakai berulang-ulang. Bungkus dijadikan kemasan tidak sembarangan. Dan wadah yang digunakan sebagai tempat penyajian benar-benar bersih."Hindari makanan yang dibungkus dengan plastik kresek hitam paku karena mengandung cemaran kimia berbahaya," kata Istu.

Selain itu, yang juga tak kalah penting adalah memperhatikan kebersihan diri si penjual jajanan. Anak-anak sebaiknya membeli jajanan di warung yang penjualnya memperhatikan kebersihan. Istu mencontohkan, jangan membeli jajanan ke penjual yang tidak menggunakan sarung tangan saat mengambil makanannya. Karena bisa saja tangan si penjual tidak higienis karena habis digunakan memegang uang, mencuci piring, merokok, dan menggaruk tubuh. 

Terakhir, Istu menyarankan cara terbaik dan paling aman melindungi anak-anak dari jajanan berhaya adalah dengan membuatkan bekal makanan sendiri dari rumah. "Sebaiknya orang tua menyempatkan waktu untuk membuat bekal. Karena masakan orang tua adalah yang terbaik," saran Istu

Full content generated by Get Full RSS.

Bayi Lahir Besar? Belum Tentu Bakal Obesitas Kok

Posted: 04 Jan 2012 11:34 PM PST

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Apakah ukuran menentukan? Inilah pertanyaan yang kerap muncul terhadap berat badan bayi dan pertumbuhan berat bayi di awal Tahun. Muncul kecemasan terkait dugaan bahwa bayi yang dianggap memiliki bobot terlalu berat bakal berisiko mengembangkan diabetes dan obesitas di kemudian hari.

Sejumlah periset di AS pun mengkaji tren pada berat bayi lahir dan ukuran untuk memastikan faktor risiko mengidap obesitas di kehidupan nanti. Riset itu dilakukan setelah berat dan panjang bayi lahir di tenggara Ohio mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Namun temuan studi mengungkap tidak ada kaitan antara obesitas di kemudian hari dengan saat kanak-kanak.

Riset terbaru yang dipublikasikan di The Journal of Pediatrics, menggunakan data ke belakangan hingga 1929 untuk mencatat jejak perkembangan ukuran bayi saat lahir hingga dewasa. Para peneliti menemukan mereka yang lahir setelah 1970 tertimbang satu pon lebih berat dan berukuran lebih dari setengah inchi lebih panjang ketimbang bayi-bayi yang lahir pada dekade sebelumnya.

"Namun bayi yang dianggap anak besar pada 1930-an tidak dianggap bayi besar saat ini," ujar salah satu peneliti, Ellen Demerath dari Divisi Epidemiologi, Kesehatan Masyarakat dan Komunitas, Universitas Minnesota.

Namun pada usia satu tahun, sebagian besar bayi memiliki ukuran sama dengan bayi pada generasi sebelumnya. Temuan itu memberi sugesti bahwa bayi terlahir kecil pada masa lalu mengalami pertumbuhan cepat dalam tahun pertama sehingga memiliki berat rata-rata bayi modern.

Ternyata bukan hanya bayi, rata-rata ukuran ibu juga meningkat dalam dekade terkini, terlihat dalam indeks massa tubuh (BMI), sebuah metoda yang menggunakan ukuran relatif berat badan dengan tinggi tubuh. Antara 1930 dan 1949, 18 persen ibu dalam studi memiliki BMI yang dikategorikan sebagai pengidap obesitas.

Kemudian pada tahun 1990 dn 2008 terjadi peningkatan dalam kategori tersebut hingga 48 persen.

Beberapa periset berspekulasi bahwa BMI besar saat hamil mengarah pada bayi lebih besar. Kondisi itu dicemaskan berkontribusi pada obesitas anak-anak di kemudian hari.

Untuk menguji pandangan tersebut, Demerath dan kolega perisetnya menggunakan data dari studi jangka panjang di Ohio terhadap bayi baru lahir sejak 1929 dan ibu-ibu mereka. Sejumlah 620 bayi yang mereka pantau ditimbang dan diukur dari sejak lahir hingga berusia 3 tahun dan semua adalah keturunan Eropa.

Some researchers have speculated that higher maternal BMIs are leading to bigger babies, which in turn may contribute to obesity later in childhood.

"Ini adalah kelas masyarakat di mana mayoritas warga berada, kelas menengah, semi urban yang dipantau jejaksnya," ujar Demerath. "Dan ternyata ada banyak perubahan besar dalam pertumbuhan bayi."

Perbedaan rata-rata pertumbuhan setelah kelahiran antara bayi di generasi awal dan kemudian, ujar Demerat, cenderung terkait kesehatan ibu saat kehamilan.

Pada periode pra-1970-an, "Angka bobot bayi lahir relatif rendah dan kesehatan ibu mungkin tak sebaik saat ini," ucap Demerath.

Para periset menyimpulkan pula bahwa tingginya jumlah bayi pada era moderan yang diberi susu formula juga menerangkan alasan pertumbuhan lambat mereka di awal tahun. Namun, kesimpulan itu belum bisa diuji dengan informasi yang mereka peroleh.

Demerath mengatakan, di atas itu semua, pertumbuhan lambat menjadi tantangan bagi mereka yang meyakini bahwa bayi besar pemicu epidemi obesitas saat ini. "Tidak berarti bayi dengan pertumbuhan berat badan tinggi bakal berakhir dengan masalah obesitas," ujar Demerath.

Pendapat itu juga dikuatkan oleh guru besar dari Departemen Pengobatan Populasi dari Sekolah Kedokteran Havard, Dr. Emily Oken. Berhati-hati, ia berkomentar sulit untuk memprediksi pertumbuhan keseluruhan seseorang pada usia-usia awal.

"Saya pikir dalam rentang usia dua hingga lima tahun terlalu dini untuk memastikan bagaimana prospek jangka panjang seseorang terhadap risiko kesehatannya dan ukuran tubuhnya," ujar Oken.

Oken menambahkan beberapa anak terlihat sedikit menambah berat badan setelah empat dan lima tahun.

Pada 2010, sebuah studi berbasis pada data lebih dari 36 juta bayi di seluruh AS, Oken dan kolega risetnya menemukan bahwa bayi dilahirkan pada 2005 berukuran lebih kecil ketimbang mereka yang lahir pada 1990. Grupnya tak bisa menerangkan tren berdasar karakteristik ibu atau bayi, atau berdasar perubahan panjang kehamilan.

Oken mengatakan hasil studinya tak lantas bertentangan dengan temuan di Ohio. Ia hanya menekankan bahwa studinya hanya berdasar pada data terkini populasi nasional. Ia juga mencermati bahwa secara umum bayi-bayi di penjuru dunia menjadi lebih besar sejak 1950-an.

Menurut Demerath, pesan utama dari riset tersebut yakni kondisi kesehatan ibu benar-benar berbeda pada beberapa dekade lalu. Namun ia dan koleganya menyimpulkan rata-rata pertumbuhan tahun pertama kehidupan tak bisa menjelaskan keterkaitan dengan obesitas di kemudian  hari.

Full content generated by Get Full RSS.

Tiada ulasan:

Catat Komen