Selasa, 26 April 2011

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


KBRI Tunis Evakuasi WNI dari Libya

Posted: 26 Apr 2011 08:00 PM PDT

London (ANTARA News) - KBRI Tunis kembali mengevakuasi dua warga Indonesia dan tiga wartawan Metro TV untuk meninggalkan Libya dalam suasana konflik bersenjata yang terus memuncak.

Kedua WNI itu masing-masing Juwarni BT Makdori Samir, (40) asal Purworejo dan Aryani BT Wiryo Semadi, (27) asal Indramayu, yang dievakuasi pada Sabtu, melalui pintu perbatasan Ras Jedir.

Sehari sebelumnya, KBRI Tunis menjemput dua  wartawan Indonesia dari MetroTV di Ras Jedir wilayah perbatasan Tunisia-Libya.

KBRI Tunis dalam keterangan persnya yang diterima Antara London, Rabu menyebutkan kedua wartawan MetroTV, reporter Andini Effendi dan kameraman Edward A.R. berada di Tripoli selama tujuh minggu untuk meliput konflik bersenjata di sana.

Kepada staf KBRI Tunis, Andini mengungkapkan kelegaannya dapat terlepas dari suasana konflik dan merasakan kembali alam yang bebas.

Sebelumnya, wartawan Metro TV lainnya, Mahendra Wisnu, juga telah keluar dari Libya. Mahendro masuk ke Tunisia lebih dahulu dibanding dua orang rekannya, yaitu pada 13 April melalui perbatasan Ras Jedir. Ia dijemput oleh staf KBRI Tunis.

Sementara kedua TKW bersyukur karena berhasil keluar dengan selamat setelah melalui hari-hari yang mencekam di Libya, tempat mereka bekerja sebagai TKW.

Aryani mengatakan setiap hari terdengar bunyi tembakan dan meriam. Ketika malam tiba terlihat banyak cahaya di langit yang nampak seperti kembang api.

"Beberapa kali terjadi ledakan besar dari bom yang jatuh tidak jauh dari rumah majikan sehingga membuat kuping sakit sekali," ujar Aryani.

Ketika ditanyakan tentang gajinya yang belum dibayarkan selama 10 bulan sebesar 200 dolar AS per bulan, majikannya, yang berencana akan mengungsi ke Dubai, Uni Emrat Arab, menyatakan akan mengirim gajinya ke Indonesia dari Dubai.

Juwarni menuturkan, suatu ketika, datang sejumlah tentara Libya pro Kadhafi yang mendobrak pintu rumah, lalu memukuli dan menendang majikan saya.

"Saya sangat khawatir tentara-tentara itu akan menyerang penghuni lainnya termasuk saya," ujarnya.
(*)

          

Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tentara Suriah Bergerak ke Pinggiran Damaskus

Posted: 26 Apr 2011 07:11 PM PDT

Amman (ANTARA News) - Presiden Suriah Bashar Al-Assad mengerahkan tentara ke wilayah di pinggiran ibu kota, sementara tanknya menggempur Deraa guna memadamkan perlawanan di kota Suriah selatan itu, tempat protes terhadap kekuasaannya meletus pada 18 Maret.

Bus berwarna putih membawa ratusan prajurit dengan perlengkapan tempur ke pinggiran utara Damaskus, Douma, kata seorang saksi mata pada Rabu. Dari tempat itu, pemrotes prodemokrasi telah berusaha berpawai ke pusat ibu kota Suriah, Damaskus, dalam dua pekan belakangan tapi mereka dihadang tentara.

Lebih dari 2.000 polisi keamanan dikerahkan ke Douma pada Selasa (26/4) dan menjaga pos pemeriksaan serta memeriksa tanda pengenal untuk menangkap simpatisan prodemokrasi, kata saksi mata --mantan tentara yang tak ingin disebutkan jati dirinya.

Ia mengatakan ia melihat beberapa truk di jalan dengan dilengkapi senapan mesin berat dan anggota polisi keamanan yang berpakaian sipil membawa senapan serbu.

Ia percaya tentara tersebut adalah Pengawal Republik, di antara satuan yang paling setia kepada Bashar Al-Assad.

Banyak diplomat mengatakan Bashar mengerahkan Divisi Zeni Keempat, yang dikomandani oleh saudaranya, Maher, ke Deraa pada Senin (25/4). Disana unjuk rasa yang menuntut kebebasan politik dan diakhirinya korupsi meletus lebih dari satu bulan lalu.

Suriah telah dikuasai oleh keluarga Al-Assad sejak ayah Bashar, mendiang presiden Hafez Al-Assad, memangku jabatan melalui kudeta 1970. Al-Assad muda mempertahankan sistem politik otokratik yang ia warisi pada 2000, sementara keluarganya memperluas kekuasaannya atas ekonomi negeri tersebut, yang dirundung masalah.

Bashar telah memperkokoh hubungan Suriah dengan Iran, yang berfaham Syiah, dan kedua negara mendukung kelompok gerilyawan Hizbullah serta HAMAS, sementara Damaskus tepat mengupayakan perdamaian dengan Israel.

Suriah dan Israel secara teknis masih berada dalam kondisi perang tapi perbatasan Dataran Tinggi Golan di antara keduanya telah tenang sejak gencatan senjata 1974.
(*)

Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen