Jumaat, 6 Mei 2011

KOMPAS.com - Regional

KOMPAS.com - Regional


Trauma, Warga Tolak Tabung Elpiji Gratis

Posted: 06 May 2011 07:56 AM PDT

Trauma, Warga Tolak Tabung Elpiji Gratis

K25-11 | Glori K. Wadrianto | Jumat, 6 Mei 2011 | 14:56 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Warga di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menolak pembagian tabung elpiji 3 kilogram. Mereka mengaku takut membawa tabung gas gratis tersebut ke rumah mereka, karena trauma dengan kasus ledakan tabung gas.

Sejumlah warga yang telah didata dan mendapatkan pembagian tabung gratis hanya menyimpan tabung tersebut, karena takut. Sementara, ada pula sejumlah warga lain yang menjualnya ke orang lain dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per tabung lengkap dengan selang dan regulator.

Kesaksian mengenai ketakutan memakai tabung gratis tersebut diungkapkan oleh Hamida, warga kecamatan Binuang. Ia mengaku jatah pembagian tabung miliknya diserahkan ke orang lain.

Bagi Hamida, lebih baik memakai kayu bakar atau minyak tanah yang lebih aman. "Terus terang saya takut simpan barang ya di rumah, katanya mudah meledak. Daripada meledak mencelakai keluarga lebih baik saya serahkan ke orang lain," ujar Hamida.

Lain lagi dengan Sittiara, ibu rumah ini mengaku hanya menyimpan tabung elpijinya. Meski sudah punya tabung dan regulatornya, Tiara masih menggunakan kompor minyak tanah dan kayu bakar untuk menjalankan aktifitas di dapur. "Saya takut pakai, katanya tabung kecil mudah meledak," ujar Tiara.

"Seharusnya sosialisasi massal lebih dahulu baru tabungnya dibagikan kepada warga," ujar Ramli, salah satu warga lainnya.

Tak hanya itu, pembagian tabung tanpa sosialisasi memadai menyebabkan banyak warga yang tidak berhak malah menerima tabung bersubsidi itu. "Pegawai, Polisi dan keluarga TNI kan tidak berhak mendapatkan tabung subsidi dari pemerintah," tambah Ramli.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Kirim Komentar Anda

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Curi Aki, Kaki Nelayan Ditembak Polisi

Posted: 06 May 2011 07:43 AM PDT

Kriminalitas

Curi Aki, Kaki Nelayan Ditembak Polisi

K9-11 | Glori K. Wadrianto | Jumat, 6 Mei 2011 | 14:43 WIB

KENDAL, KOMPAS.com - Masrokhan (37), Warga Desa Lanji Kecamatan Patebon, pelaku aksi pencurian empat aki kering yang terpasang di menara pemancar milik PT XL Axiata Tbk di Desa Dampalrejo, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Jawa tengah, ditembak kaki kirinya oleh petugas polisi Resor Kendal.

Peluru ditembakkan saat ia bersama rekannya, Amir (18) warga Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal, mencoba melarikan diri saat hendak ditangkap oleh petugas. "Amir sampai saat ini, bisa meloloskan diri dan masih kami cari," kata Kepala Polres Kendal, AKBP Agus Suryo Nugroho, yang didampingi oleh Kasatreskrim, AKP Agus Purwanto, Jumat (6/5/2011).

Sebagai seorang nelayan, pendapatannya tidak cukup untuk menghidupi keluarga. Apalagi dalam beberapa bulan terakhir, tidak melaut akibat cuaca. "Awalnya, saya tidak mempunyai niat untuk mencuri. Tapi tiba-tiba, Amir datang ke rumah, kemudian mengajak melakukan pencurian," kata Masrokhan.

Mereka pun bersepakat dan merencanakan pencurian tersebut. Masrokan menjadi eksekutornya, dengan cara memotong kawat pagar dengan menggunakan tang. Setelah masuk ke dalam, mereka mencongkel pintu kabinet dengan menggunakan linggis.

Ia kemudian mencuri empat buah aki kering merek Coslight seri 6-GFM-92X/H warna abu-abu yang dibawa dengan cara dimasukkan ke dalam karung. Sedangkan tersangka Amir waktu itu hanya bertugas sebagai pengawas.

Saat ini barang hasil curian dan alat bukti lainnya diamankan polisi. Tersangka akan dijerat Pasal 363 KUHPtentang Pencurian dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Kirim Komentar Anda

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen