Isnin, 10 Januari 2011

Republika Online

Republika Online


Apa Sih, Beda Telur Asin Organik dan Biasa?

Posted: 10 Jan 2011 05:29 PM PST

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU--Telur asin organik hasil produksi peternak bebek tradisional Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, makin diminati konsumen. Komoditas ini kini dikirim hingga ke Jakarta dan kotakota lain di sekitarnya. "Kendati harganya lebih mahal dibanding telur asin biasa, namun peminatnya terus meningkat," kata salah seorang pengusaha besar telur asin organik asal Desa Eretan Kabupaten Indramayu, H Badori, Selasa.

Apa sih, beda telur asin organik dan telur asin biasa? "Selain rasanya lebih gurih, telur asin organik yang diproduksi dari bebek liar bukan kandang juga lebih awet ," katanya.

Menurut dia, telur bebek yang dipelihara dikandang pada umumnya menggunakan pakan olahan pabrik, di mana makanannya sudah tercampur dengan bahan kimia sehingga hasil telurnya kurang baik jika di olah menjadi telur asin. Kondisi itu, berbeda dengan bebek "angon" (liar), yang makanannya alami dari sawah dan sungai.

"Telur bebek liar mampu menghasilkan telur asin yang baik dengan rasa gurih dan tahan lama, sedangkan telur bebek kandang rasa telur asinnya kurang sedap, selian itu tidak tahan lama," katanya.

Dia menjelaskan, meski harga telur bebek "angon" cukup mahal jika dibandingkan bebek kandang, namun permintaan dari konsumen tetap telur organik yang dihasilkan oleh bebek liar masih tinggi.
Saat ini satu butir harga telur bebek organik kurang dari Rp 1.300 per butir, sementara telur bebek kandang kurang dari Rp 1.100 per butir.

"Harga telur asin organik yang dipasok ke Jakarta Rp 1.700 per butir, saat ini permintaan pasar sering kekurangan pasokan karena produksi telur asin di desa kami belum maksimal," katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Soge Salim mengaku, peternak bebek tradisional di desanya mampu meningkatkan kesejahteraan dengan upaya memasok telur asin organik hingga ke Jakarta.

 

Full Feed Generated by GetFullRSS.com, sponsored by USA Best Price.

Dua Jam Non-Stop Nonton TV Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung, Lo

Posted: 10 Jan 2011 04:43 PM PST

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - ORANG yang menghabiskan lebih dari dua jam per hari waktu luangnya dengan  menonton televisi atau duduk di depan  layar berrisiko penyakit jantung. Bahkan risiko lebih tinggi adalah kematian mendadak, sebuah studi menyimpulkannya pada hari Senin.

Para peneliti mengatakan waktu luang jika salah memanfaatkan bisa berdampak buruk bagi kesehatan secara keseluruhan.

"Ini semua masalah kebiasaan. Banyak dari kita  kembali pulang selepas kerja, putar TV  dan duduk selama beberapa jam - ini nyaman dan mudah dilakukan, "kata Dr Emmanuel Stamatakis, ahli epidemiologi dan kesehatan masyarakat di University College London.

"Namun, kebiasaan yang begitu sederhana punya pengaruh begitu buruk bagi jantung dan kesehatan kita secara umum, "kata Dr Stamatakis, yang bersama dengan  penelitian lainnya membuat pedoman advokasi kesehatan masyarakat untuk memperingatkan risiko tubuh tidak aktif selama jam non-kerja. Peringatan tersebut mendesak, "terutama karena mayoritas orang dewasa usia kerja menghabiskan waktu yang lama yang juga secara fisik tidak aktif, membungkuk di atas meja atau komputer, "kata studi yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology.

Para peneliti mempelajari data dari 4.512 orang dewasa yang ikut ambil bagian dalam Survei Kesehatan Rumah Tangga di Skotlandia. Ketika para ilmuwan dibandingkan, orang-orang yang melaporkan menghabiskan waktu kurang dari dua jam sehari di depan layar yang berbasis hiburan, risiko penyakit jantung mereka tak sebesar persentase orangorang yang menghabiskan empat atau lebih jam per hari. Kelompok ini lebih rentan 125 persen terkena serangan jantung.

Full Feed Generated by GetFullRSS.com, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan