Rabu, 4 Julai 2012

ANTARA - Berita Terkini

ANTARA - Berita Terkini


Pele: Brazil 1970 "lebih baik" dari Spanyol

Posted: 04 Jul 2012 07:11 PM PDT

Sao Paulo (ANTARA News) - Legenda sepak bola Pele mengatakan di Sao Paulo, Rabu, bahwa tim Brazil pada Piala Dunia 1970 "lebih baik" dibandingkan dengan tim Spanyol yang memenangi laga final Piala Eropa 2012.

"Tiap generasi memiliki keistimewaan masing-masing, tapi tak dikhawatirkan lagi, bila kita bandingkan, generasi 1970 lebih bagus," kata Pele.

"Tim Brazil 1970 memiliki banyak pemain individu yang hebat dibanding Spanyol, yang hanya memiliki dua atau tiga pemain hebat," kata Pele yang merupakan bagian dari tim Brazil yang mengalahkan Italia 4-1 pada babak final Piala Dunia 1970.

Pele memuji tim Spanyol yang bermain mengalir, menerapkan sepak bola menyerang, sehingga mampu menundukkan Italia 4-0 di Kiev. Ia juga menyebutnya sebagai tim terbaik dunia saat ini.

Pele berbicara dalam temu pers dalam kapasitasnya sebagai duta Copa Santander Libertadores. Ini karena  klub raksasa Argentina Boca Juniors sedang berusaha menang untuk ketujuh kalinya pada leg kedua final melawan tim Brazil, Corinthians, Rabu malam.

Kedua tim bermain imbang 1-1 pada laga leg pertama di Buenos Aires bulan lalu.

Pele kemudian ditanya tentang komentarnya April lalu yang menyatakan pemain bintang Brazil dari Santos, Neymar, lebih baik dari pemain bintang dari Argentina, Lionel Messi dari Barcelona.

Pele mengatakan, tidak adil bila membandingkan pengatur serangan berusia 20 tahun dari Santos itu, karena ia baru menekuni karir internasional selama 18 bulan, dengan pemain terbaik dunia, Messi.

"Neymar memiliki segala sesuatunya untuk menjadi Messi, atau Maradona baru," kata Pele sembari menyinggung Messi yang sudah memiliki pengalaman internasional selama 15 tahun.

"Coba bayangkan bila Neymar memiliki pengalaman seperti Messi, siapa yang lebih baik?," kata Pele.
(ANT)

Ketua MK kagumi Masjid Hassan II Casablanca

Posted: 04 Jul 2012 05:05 PM PDT

Mahfud MD (FOTO.ANTARA)

Masjid Raja Hassan II adalah masjid dengan arsitektur yang sangat Islami tetapi dengan fasilitas Modern. Masjid ini juga simbol keharmonisan Islam dan Kemodernan sehingga menjadi kebanggan bagi seluruh umat Islam."

Berita Terkait

London (ANTARA News) - Ketua Mahkamah Konstitusi RI Moh. Mahfud MD, yang didampingi Dubes RI Tosari Widjaja, mengungkapkan kekagumannya saat mengunjungi Masjid Hassan II di kota Casablanca Maroko.

Moh. Mahfud MD mengadakaan kunjungan kerja ke Maroko dalam rangka menghadiri Kongres Internasional Asosiasi Mahkamah Konstitusi Negara-Negara Berbahasa Perancis (ACCPUF) di Marrakech pada 4-5 Juli atas undangan Ketua Dewan Konstitusi Maroko Dr. Mohamed Achargui, demikian Sekretaris III sekaligus Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Rabat, Suparman Hasibuan, kepada ANTARA London, Kamis.

Masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Maroko Hassan II tersebut terletak di tepi pantai Casablanca dan menjadi kebanggaan bagi rakyat Maroko karena menjadi Masjid ketiga terbesar setelah Masjid Al Haram di Mekkah dan Madinah.

Ornamen dan arsitektur yang indah khas Maghribi dan Andalusia dengan menara yang sangat tinggi berbentuk persegi empat, menurut Moh. Mahfud MD, menjadikan masjid ini layak untuk dikagumi dan dijadikan kebanggan bagi umat Islam.

"Masjid Raja Hassan II adalah masjid dengan arsitektur yang sangat Islami tetapi dengan fasilitas Modern. Masjid ini juga simbol keharmonisan Islam dan Kemodernan sehingga menjadi kebanggan bagi seluruh umat Islam," ungkap Mahfud.

Moh. Mahfud MD mengungkapkan kekagumannya kepada Raja Hassan II yang memimpin Maroko dari 1961-1999 karena mampu mewujudkan visinya sehingga namanya dicatat dalam sejarah peradaban Islam sebagai tokoh yang mampu mewariskan kebanggaan bagi umat Islam dengan dibangunnya Masjid yang sangat megah, indah dan modern.

Moh. Mahfud sebelumnya meletakkan karangan bunga di pusara Raja Maroko Mohammed V sebagai simbol persahabatan yang erat antara Indonesia dan Maroko pada masa presiden pertama RI Ir. Soekarno dan Raja Mohamed V di era perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah.

Ia juga menjadi pembicara dalam seminar bertema "Pengalaman Demokrasi di Indonesia dan Maroko; Peran Pengadilan Konsitusi" diadakan Asosiasi Persaudaraan Indonesia-Maroko (ASMIB) bekerjasama dengan KBRI Rabat dihadiri anggota parlemen Maroko, akademisi, pakar, praktisi hukum serta pelajar, masyarakat Indonesia dan Maroko.

(H-ZG/E001)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca

Kirim Komentar

Tiada ulasan:

Catat Ulasan