Selasa, 6 Disember 2011

ANTARA - Peristiwa

ANTARA - Peristiwa


Pabrik konveksi dan parfum terbakar

Posted: 06 Dec 2011 07:40 AM PST

Yogyakarta (ANTARA News) - Pabrik konveksi pakaian dalam dan parfum di Jalan Jogokaryan Nomor 3 Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Selasa malam terbakar.

"Diduga penyebab kebakaran karena terjadi hubungan arus pendek listrik. Namun, kepastiannya masih menunggu penyelidikan pihak berwajib," kata Kepala Kantor Penanggulangan Kebakaran Bencana dan Perlindungan Masyarakat Kota Yogyakarta Sudarsono.

Untuk memadamkan kebakaran tersebut, Kantor Pemadam Kebakaran, Bencana dan Perlindungan Masyarakat Kota Yogyakarta mengerahkan enam mobil pemadam kebakaran.

"Karena kebakarannya cukup besar, kami mendapatkan bantuan dari Kabupaten Sleman dua unit mobil pemadam kebakaran, dan masing-masing satu unit dari Kabupaten Bantul, serta dari Pabrik Gula Madukismo," katanya.

Ia mengatakan mobil pemadam kebakaran dapat memperoleh air dengan cukup mudah karena terdapat tandon air milik pemerintah di sekitar lokasi kejadian, yaitu di Mantrijeron dan Mergangsan.

Kebakaran tersebut juga membuat ratusan warga di sekitar lokasi kejadian keluar rumah untuk melihat secara dekat kejadian kebakaran tersebut.

"Pada saat memadamkan api, dua petugas pemadam kebakaran menjadi korban," katanya yang menyebut kejadian tersebut termasuk kebakaran besar di Yogyakarta.

Seorang petugas terpeleset saat memadamkan api dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, sedang petugas lain mengalami sesak nafas, namun dapat langsung ditangani di lokasi kejadian.

Selain dari pemadam kebakaran, upaya untuk memadamkan api yang membakar pabrik sekitar pukul 20.00 WIB itu, juga dilakukan sejumlah relawan.

Koordinator Rescue Relawan PKPU Yogyakarta Sholeh mengatakan kebakaran di pabrik konveksi dan parfum itu cukup besar.

"Apinya cukup besar sehingga menghasilkan asap yang pekat. Selain itu, terkadang ada suara letupan. Kemungkinan dari parfum yang terbakar," katanya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti juga menyempatkan datang ke lokasi kejadian setelah mendengar berita kebakaran tersebut.

"Tadi saya sedang mengikuti pengajian. Tetapi saat mendengar ada kejadian kebakaran itu, saya pun datang ke lokasi," katanya.

Ia mengatakan komunikasi adalah bagian penting dalam penanganan bencana termasuk pemadaman kebakaran.

"Dari radio, banyak relawan yang datang untuk membantu memadamkan kobaran api. Ini membuktikan komunikasi sangat penting dalam penanganan bencana," katanya.

Ia berharap seluruh pihak dapat meningkatkan upaya untuk mencegah terjadinya kebakaran, di antaranya selalu memperhatikan instalasi listrik.

(U.E013/M008)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Tiga penderita kelamin ganda tidak mampu berobat

Posted: 06 Dec 2011 07:37 AM PST

Tegal (ANTARA News) - Tiga penderita kelamin ganda di Desa Sokasari, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, membutuhkan bantuan untuk pengobatan karena keluarga mereka tidak mampu menanggung biaya berobat

Tiga penderita kelamin ganda itu yakni Zakaria (8) dan adik kandungnya Topan (1), serta kakak sepupu mereka Santi (23). Mereka memiliki kelamin ganda sejak lahir dan hingga saat ini belum tersentuh perawatan medis karena keterbatasan ekonomi.

"Saya tidak mempunyai biaya untuk transportasi dan berobat ke puskesmas atau rumah sakit sehingga Zakaria dan Topan belum pernah diperiksa dokter," kata Seni (35), ibu dua penderita kelamin ganda itu di Tegal, Selasa.

Ia mengatakan, Zakaria yang anak nomor dua dari lima bersaudara dan Topan lahir dengan kelamin ganda. Bahkan, karena bingung menentukan jenis kelamin kedua buah hatinya tersebut, keluarga sepakat memperlakukan Zakaria dan Topan sebagai laki-laki.

"Keluarga sempat bingung menentukan jenis kelamin mereka, namun karena alat kelamin mereka menurut kami lebih mirip laki-laki maka keluarga memperlakukan Zakaria dan Topan seperti anak laki-laki pada umumnya," katanya.

Kedua orang tua Zakaria dan Topan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut mengaku, belum pernah membawa kedua putra mereka ke dokter untuk menjalani pemeriksaan medis karena ketiadaan biaya.

"Selama ini mereka tidak ada keluhan terkait kelainan pada alat kelaminnya, namun keluarga khawatir jika dewasa nanti akan mengalami nasib seperti sepupunya yang juga menderita kelamin ganda," katanya.

Santi, kakak sepupu Zakaria dan Topan yang juga menderita kelamin ganda mengaku, lebih memilih menjadi perempuan meskipun hingga usia 23 tahun, anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Dasori (70) dengan Poniah (65) tersebut tidak tumbuh payudara seperti perempuan pada umumnya.

Ia mengatakan, sejak usia 16 tahun mengalami menstruasi setiap bulan hingga saat ini. Namun ia juga bingung dengan suaranya yang seperti laki-laki.

"Gara-gara suara seperti laki-laki, saya pernah dikeroyok warga saat mengikuti pengajian di sebuah pondok pesantren karena dikira sebagai laki-laki yang menyamar perempuan dengan mengenakan jilbab dan masuk di ruangan jamaah perempuan," katanya.

Santi yang sehari-hari rajin membantu orang tuanya mencari rumput untuk pakan ternak tersebut mengatakan, sejak lahir diperlakukan seperti perempuan.

Namun, selain menyukai berbagai jenis mainan anak perempuan seperti boneka dan bunga ia senang bermain sepak bola.

"Menurut hasil pemeriksaan dokter yang memeriksa kelamin saya beberapa hari lalu mengatakan bahwa kelamin saya ganda, sehingga untuk menentukan apakah saya laki-laki atau perempuan maka harus diperiksa ke Rumah Sakit Kariadi Semarang," katanya.

Ia mengatakan, sejak lahir hingga berusia 23 tahun baru sekali memeriksakan kelainan pada alat kelaminnya ke puskesmas terdekat karena selama ini tidak memiliki biaya untuk periksa dan berobat .

Kepala Desa Sokasari Fatkhuroji mengatakan, hingga saat ini pemerintah desa sedang mengupayakan agar Santi dapat berobat hingga menjalani operasi kelamin di rumah sakit menggunakan kartu jaminan kesehatan masyarakat agar terbebas dari biaya pengobatan.

"Selama ini Santi ingin menjadi wanita, sehingga menurut dokter Puskesmas yang memeriksanya, Santi harus menjalani operasi kelamin karena selama ini ia menderita kelamin ganda, namun hingga kini keluarga belum memiliki biaya operasional selama menjalani pengobatan di Semarang," katanya.
(ANT-281/M029)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan