Ahad, 6 Mac 2011

ANTARA - Peristiwa

ANTARA - Peristiwa


KBRI Kairo Kembali Evakuasi 13 TKI dari Libya

Posted: 06 Mar 2011 07:04 AM PST

Kairo (ANTARA News) - KBRI Kairo kembali mengevakuasi 13 warga negara Indonesia (WNI) dari Libya menyusul evakuasi serupa pekan lalu terhadap delapan WNI.

WNI tersebut semuanya berstatus sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) terdiri atas 10 wanita dan tiga pria, kata Kepala Fungsi Penerangan, Sosial dan Kebudayaan KBRI Kairo, Iwan Wijaya Mulyatno kepada ANTARA, Ahad.

Setelah ditampung beberapa di KBRI Kairo, para TKI tersebut dipulangkan dengan penerbangan Emirate Airlines, EK-358, pada Ahad (6/3) petang dan dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (7/3), pukul 21.30 WIB.

Menurut Iwan, para TKI itu sempat gelisah dan terjebak di Benghazi, salah satu kota di Libya yang dilanda konflik berdarah, dan meminta pertolongan KBRI Kairo.

"Berkat koordinasi intensif antara KBRI Tripoli, KBRI Tunis dan KBRI Kairo, pada tanggal 4 Maret 2011 para WNI itu diarahkan menujuk ke wilayah perbatasan Libya-Mesir karena lebih memudahkan evakuasi," katanya.

Disebutkan, Duta Besar RI untuk Mesir, A.M. Fachir kemudian memerintahkan Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler (Protkons) KBRI Kairo, Muhammad Abdullah, ke Shalom, pintu perbatasan Mesir-Libya untuk menyelamatkan mereka.

Jarak tempuh dari Benghazi ke Shalom sekitar delapan jam perjalanan darat, sedangkan dari Kairo ke Shalom membutuhkan waktu sekitar 10 jam dengan kendaraan darat.

Protkons Abdullah mengatakan, pihak imigrasi Mesir cukup kooperatif dan mempermudah WNI tersebut masuk ke Mesir, bahkan ada di antara mereka tidak memiliki paspor sehingga Abdullah membuatkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP).

TKI tersebut adalah Tarmini binti Kartala, asal Indramayu, Jawa Barat, Karnata Yasmin Kasmadi (Indramayu), Jaenal Tayudin (Cianjur, Jawa Barat), Nuryati Binti Ajid Dama (Cianjur), Endah Bt Udin Misnan, (Karawang, Jawa Barat), Aini (Pringgabaya, NTB), Rahmawati Binti Sadri Waslim (Indramayu), Ika Atik Badriah Binti Nurdin (Cianjur).

Sumarni Binti Umar Sobri (Sukabumi, Jawa Barat), Emayuni Arpujianti Binti Wawan (Majalengka, Jawa Barat), Rokmah Binti Aryani Yunus (Cirebon), Nuraidah Binti Warsita Cakrah (Indramayu), dan Wan Yodio Juniarman (Bogor, Jawa Barat).

Sejauh ini KBRI Kairo telah mengavakuasi sebayak 34 WNI dari Libya akibat krisis politik melanda negara jiran sebelah barat Mesir itu.(*)

(ANT/M043)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Ulil : Koalisi Ideal Tanpa Golkar dan PKS

Posted: 06 Mar 2011 06:20 AM PST

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla menilai, koalisi ideal partai pendukung pemerintah adalah tanpa Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera, dan akan jauh lebih baik jika diperkuat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

"Koalisi ideal itu tanpa Golkar dan PKS, karena dua partai ini banyak melakukan tindakan yang dapat mengganggu kestabilan pemerintahan," kata Ulil saat menghadiri konferensi pers Forum Renovasi Indonesia (FRI) bersama lintas partai politik di kantor DPP PNBK di Jakarta, Minggu.

Dikatakannya, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kurang nyaman dalam menjalankan kebijakan karena seringkali "ditorpedo" oleh partai yang notabene anggota koalisi.

"Selama ini SBY tak bisa tenang melakukan kebijakannya karena ditorpedo rekan koalisi," kata Ulil.

Apalagi belakangan ini marak kasus kekerasan atas nama agama yang mengganggu pluralitas Indonesi,a namun pemerintah tidak dapat bertindak tegas karena kurang mendapat sokongan dari partai anggota koalisi, terutama PKS.

Menurut Ulil, keberadaan PKS mengganggu citra pemerintahan SBY yang seharusnya nasionalis, pro Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila, sehingga layak jika dikeluarkan dari koalisi.

Sebaliknya, kata Ulil, jika PDI Perjuangan masuk dalam koalisi, demikian juga dengan Partai Gerindra, maka warna nasionalis dalam koalisi akan lebih kuat.

Sementara itu, Sekretaris FRI Mustika Ali Sani mengatakan, pihaknya mendukung tindakan dan kebijakan Presiden Yudhoyono terhadap partai-partai anggota koalisi.

"Menurut pemahaman kami, standar baku yang beliau (SBY) lakukan sama dengan standar baku yang kami pahami," katanya.(*)

(T.S024/R014)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen