Sabtu, 26 Februari 2011

ANTARA - Peristiwa

ANTARA - Peristiwa


Aktivitas Gempa Sporadis di Trenggalek Menurun

Posted: 26 Feb 2011 06:55 AM PST

Trenggalek (ANTARA News) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan aktivitas gempa sporadis akibat pergeseran blok batuan dalam tanah yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo, Jatim, mulai menurun.

"Sementara ini kami tidak menemukan adanya aktivitas gempa ataupun dentuman sama sekali," kata Kabid Gempa dan Bencana Geologi PVMBG, Gede Swastika, saat presentasi hasil penelitian di Pendopo Kabupaten Trenggalek, Sabtu.

Namun, hasil analisis yang dipresentasikan itu masih bersifat sementara dan terus ditindaklanjuti.

Ahli geofisika asal Bali itu mengatakan analisis didasarkan pada hasil pendeteksian gempa menggunakan dua perangkat seismograf yang berlokasi di Desa Pringapus, Kecamatan Dongko dan Desa Timahan, Kecamatan Kampak yang telah mereka unduh.

Masih ada dua perangkat seismograf lagi yang belum dicabut, yakni di Desa Botoputih, Kecamatan Bendungan dan Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo.

"Sore ini dua perangkat seismograf tersebut diambil dan akan kami `download` hasilnya. Namun, jika mengacu hasil sementara dari dua alat yang telah diambil sebelumnya, bisa dipastikan aktivitas gempa tektonik di Trenggalek sudah menurun," tandasnya.

Ia kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai fenomena dentuman disertai getaran seismik yang selama ini sering didengar dan dirasakan sebagian warga di kawasan pesisir Trenggalek maupun daerah lainnya seperti di Ponorogo, Madiun, Nganjuk, serta Tulungagung.

Hasil penelitian secara visual yang kemudian dikorelasikan dengan data topografi tanah atau batuan di sekitar lereng Gunung Wilis, terutama di Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, Kediri, dan Tulungagung, menyebutkan gempa terjadi karena ada pergerakan blok-blok batuan di dalam tanah yang menyebabkan benturan-benturan.

Energi yang dilepas akibat benturan antarblok batuan dalam skala besar itulah yang kemudian menyebabkan munculnya suara dentuman bergemuruh disertai getaran tanah dengan intensitas kecil antara 1-3 skala Richter.

Gede Swastika menegaskan fenomena gempa yang dirasakan masyarakat Trenggalek, Ponorogo, maupun sejumlah daerah lain di sekitar lereng Gunung Wilis bukanlah aktivitas vulkanik, tetapi murni gerakan tektonik yang terjadi akibat pergerakan antarblok batuan.

"Pergerakan blok batuan atau blok tanah di lapisan bumi terluar ini bisa terjadi karena curah hujan tinggi ataupun karena memang ada gaya tektonik antarblok batuan yang disebut sesar atau patahan" tambah salah satu ahli Geologi PVMBG yang ikut dalam tim penelitian di Trenggalek, Heri Purnomo.

Namun, aktivitas itu diprediksi tidak akan menimbulkan bencana besar karena pergerakan blok batuan atau blok tanah hanya bersifat melokal.

"Aktivitas tektonik seperti ini biasanya akan berhenti jika sudah mencapai titik keseimbangan baru," tandasnya.(*)

(T.KR-SAS/D010)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Politisi: Perintah Pembubaran Ormas Anarkis Hanya "Warning"

Posted: 26 Feb 2011 06:50 AM PST

Surabaya (ANTARA News) - Politisi yang mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI H Taufiqurrahman Saleh menilai perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membubarkan ormas anarkis itu hanya "warning" (peringatan keras).

"Itu hanya warning, karena kalau serius, tentu Presiden akan memanggil aparat penegak hukum, lalu perintah langsung diberikan kepada mereka, sehingga ada eksekusi, bukan hanya `statement`," katanya di Surabaya, Sabtu.

Ia mengemukakan hal itu pada dialog publik "Reposisi Ormas/LSM dalam Masyarakat dan Pembangunan Nasional" yang digagas Institute For Strategic and Develompment Studies (ISDS) bekerja sama dengan Ikatan Alumni Fisip Unair Surabaya.

Menurut anggota DPR RI 2004-2009 itu, perintah dari Presiden yang tidak serius itu sangat mungkin memang tidak bertujuan untuk membubarkan, melainkan sebatas "warning" kepada ormas anarkis.

"Kalau serius untuk membubarkan, saya kira aturannya sudah ada dan negara tidak perlu ragu-ragu, tapi kalau tidak serius ya hanya sebatas gertakan supaya ormas yang diindikasikan anarkis itu `nge-per`," katanya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jatim KHM Syukron Jazilan MAg menegaskan bahwa pelaku anarkisme itu sebenarnya tidak dapat diperangi atau dibubarkan, tapi diajak kembali kepada jalan antikekerasan.

"Itu karena dunia ini secara sufi itu sudah ditakdirkan untuk makin lama makin rusak hingga akhirnya terjadi kiamat, sehingga kemaksiatan itu akan terus ada, karena itu kemungkaran (kejahatan) itu tidak perlu dihadapi dengan cara anarkis, tapi dengan dakwah (ajakan)," katanya.

Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya itu berpendapat NU sendiri menegaskan bahwa kekerasan (kemungkaran) itu tidak dapat diselesaikan dengan cara kekerasan (anarkis).

"Tapi, ormas anarkis itu punya logika sendiri yakni kemungkaran itu harus dihadapi dengan kekerasan, karena kemungkaran cenderung dibiarkan aparat penegak hukum," kata pengasuh Pesantren Mahasiswa `Al Jihad` Jemurwonosari, Surabaya itu.

Dalam dialog publik itu, utusan Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) menyatakan ormas seperti NU itu memiliki peran penting dalam negara yang luas seperti Indonesia, karena pemerintah tidak mampu menyampaikan program sampai ke pelosok desa di seluruh Indonesia, sedangkan ormas atau LSM itu ada hingga ke pelosok desa.(*)

(T.E011/E001)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan