Isnin, 2 Mei 2011

KOMPAS.com - Regional

KOMPAS.com - Regional


52 Rumah Penduduk Diterjang Lahar Dingin

Posted: 02 May 2011 06:31 AM PDT

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Lahar dingin Merapi menerjang 52 rumah penduduk dan dan merusak 15 hektar sawah di Dusun Kayen, Desa Sindumartani, Ngemplak, Sleman. Peristiwa itu terjadi setelah Tanggul Bangsan jebol diterjang lahar dingin Gunung Merapi.

"Sebanyak 50 rumah rusak berat dan dua di antaranya rusak sedang," kata Camat Ngemplak Endang Widowati, Senin (2/5) di lokasi bencana, Dusun Kayen, Desa Sindumartani, Ngemplak, Sleman.

Selain merusak rumah dan areal persawahan, satu unit mobil pick up dan satu traktor tangan hanyut terbawa lahar dingin. Dilaporkan pula, lahar menerjang Peternakan Armafarm sehingga 6.000 ekor ayam petelur hilang dan tiga ekor kambing milik warga hanyut. Akibat bencana lahar dingin ini, 52 kepala keluarga terpaksa diungsikan ke SMA IKIP Veteran, Bimomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Sebagian besar warga tak sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

Pasca-erupsi Merapi medio Oktober-November 2010 lalu, banjir lahar dingin mengancam sejumlah kawasan. Diperkirakan, banjir lahar dingin akan terus terjadi dalam waktu lama, terutama saat hujan mengguyur.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta memperkirakan, bahaya lahar dingin dari material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi akan berlangsung dalam waktu yang lama. Pihaknya memperkirakan ancaman banjir lahar dingin bisa hingga mencapai lebih dari satu tahun.

"Volume material hasil erupsi Gunung Merapi yang telah terbawa sebagai lahar dingin masih sangat kecil sehingga ancaman lahar dingin masih bisa terjadi dalam waktu lama, bahkan bisa lebih dari satu tahun," kata Kepala Balai Penyelidikan dan pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Yogyakarta, pada Selasa (30/11/2010) lalu.

"Material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi tersebut tidak akan turun seketika menjadi lahar dingin, tetapi akan turun dalam volume-volume kecil dalam waktu yang cukup lama," jelasnya.

Ia mengatakan, ancaman bahaya lahar dingin tidak akan sebesar ancaman letusan Gunung Merapi yang berupa awan panas. "Namun, lahar dingin kemungkinan akan lebih sering terjadi dibanding awan panas, terlebih pada musim hujan," kata Subandriyo.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Baleendah Masih "Tenggelam"

Posted: 02 May 2011 06:20 AM PDT

Banjir Citarum

Baleendah Masih "Tenggelam"

Didit Putra Erlangga Rahardjo | Asep Candra | Senin, 2 Mei 2011 | 13:20 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Banjir yang melanda Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung akibat luapan Sungai Citarum kian parah dengan ketinggian air mencapai 1,7 meter di Kampung Cieunteung, Baleendah.

Hal itu mengakibatkan peningkatan jumlah keluarga yang diungsikan. Menurut pemantauan Kompas, Senin (2/5/2011), daerah yang tergenang di Baleendah kian meluas dan dalam. Misalnya di perbatasan Baleendah dengan Majalaya yang terdapat Kampung Cieunteung dengan Kelurahan Andir.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, sudah ada 223 keluarga yang diungsikan akibat banjir. Salah satunya karena ketinggian banjir di Kampung Cieunteung yang mencapai 1,75 meter sehingga warga yang semula bertahan akhirnya menyerah dan mengungsi.

Kondisi tersebut merupakan imbas banjir besar yang melanda Majalaya beberapa hari sebelumnya. Air yang tergenang di Baleendah terus meningkat karena terus mendapatkan pasokan dari Majalaya.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Kirim Komentar Anda

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen