Khamis, 5 Mei 2011

detikcom

detikcom


Menikmati Pasar Kaget di Kota Liege

Posted: 05 May 2011 01:01 PM PDT

Jumat, 06/05/2011 03:01 WIB
Laporan dari Belgia
Menikmati Pasar Kaget di Kota Liege 
Deden Gunawan - detikNews

Liege - Rupanya pasar kaget yang muncul di setiap hari Minggu bukan hanya ada di Indonesia saja. Di Kota Liege, Belgia, pasar kaget juga ada. Hanya bedanya tenda-tenda yang digelar pedagang kaki lima di Belgia tersusun rapi. Begitu juga dengan kendaraan para pedagang atau pun para pembeli. Semuanya terparkir dengan rapi.

Para pedagang kaki lima di kota kecil yang berbatasan dengan Belanda ini, kebanyakan mengunakan mobil-mobil lumayan mewah jenis van untuk lapak dagangan mereka. Tidak ada gerobak atau mobil pick up.

Karena kondisi pasar yang tampak rapi dan bersih warga yang datang berbelanja merasa nyaman. Apalagi barang-barang yang dijual sangat bervariasi dengan harga yang miring.

Di negara yang saat ini menjadi pimpinan Uni Eropa ini, pasar kaget di gelar di sepanjang sungai Meuse, Kota Liege, Belgia. Masyarakat di Liege menyebut pasar tersebut 'Sunday Market'. Karena memang pasar tersebut hanya ada di hari Minggu.

Para pedagang di Sunday Market, kebanyakan para imigran, baik dari Belanda, India, Pakistan, maupun Turki. Mereka menjajakan pakaian, kebutuhan ruah tangga, makanan, dan aneka barang lainnya.

Harga-harga di sunday market ini memang lebih miring dibanding yang ada di toko-toko yang ada di sana. Sebab harga barang yang dibandrol di sana hanya berkiar 3 euro - 10 euro. Sementara di toko-toko untuk mendapatkan sepotong celana atau baju harganya minimal 25 euro.

Ahmmed, warga keturunan India yang berdagang pakaian anak-anak mengatakan, dagangan yang dijajakannya merupakan hasil buatan sendiri. "Kami punya pabrik sendiri. Jadi disain dan bahannya kami yang buat. Kemudian kami beri merek sendiri," jelas Ahmed kepada detikcom.

Kata Ahmed, para pedagang di Sunday Market memang tidak ada yang menjual barang-barang aspal alias barang tiruan. Sebab otoritas setempat atau di kawasan Eropa sangat ketat sekali dalam hal perlindungan hak merek.

"Kalau kami ketahuan berdagang barang tiruan, selain di denda kami juga akan di deportasi," begitu kata Ahmed.

Makanya jangan berharap kita akan menemukan barang-barang yang bermerek terkenal di Sunday Market. Meski demikian model-model pakaian atau kebutuhan rumah tangga lainnya tidak kalah bagusnya dengan merek-merek terkenal yang ada di toko-toko atau butik.

Alasan itulah yang membuat warga Kota Liege sangat menanti kehadiran Sunday Market di setiap akhir pekan.

(ddg/lrn)

Follow twitter @detikcom dan gabung komunitas detikcom di facebook

Tutup

  Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

  Share via Email:

Share via Email


loadingSending your message

Message has successfully sent


Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Kronologi Penangkapan 3 WN Malaysia dalam Demo KTT ASEAN Versi LSM

Posted: 05 May 2011 09:20 AM PDT

Kamis, 05/05/2011 23:20 WIB
Kronologi Penangkapan 3 WN Malaysia dalam Demo KTT ASEAN Versi LSM  
Laurencius Simanjuntak - detikNews

Jakarta - Polisi sempat mengamankan 3 warga negara (WN) Malaysia terkait unjuk rasa KTT ASEAN di depan kantor Sekretariat ASEAN, Jl Sisingamangaraja, Jakarta Selatan sore tadi. Namun polisi akhirnya melepaskan 3 orang tersebut karena tidak terkait dengan demonstrasi.

Berikut kronologi penangkapan seperti yang sampaikan Solidarity Indonesia For ASEAN Peoples, lewat siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (5/5/2011).

-Pukul 15.30 WIB

Kami membuka aksi dengan membentangkan sepanduk petisi dan poster-poster yang bertuliskan solidaritas untuk demokratisasi masyarakat ASEAN, setelah satu jam berorasi.

-Pukul 16.20 WIB

Ada pihak intel kepolisian yang mendatangi kawan-kawan Malaysia yang sebenarnya mereka tidak ikut aksi, akan tetapi melihat dan akan membeli batik. Satu intel polisi sudah menanyakan ke tiga kawan malaysia yang juga peserta ASEAN People Forum (APF).

Setelah satu intel polisi menanyakan identitas, paspor, dan lainnya sampai menanyakan kartu peserta APF, mereka dianggap tidak masalah. Tetapi setelah 5 menit datang kembali dua intel kepolisian yang juga menanyakan identitas ketiga peserta APF itu, yakni Nazreen nizam, Enalini Devi Elumalai dan Choo Cnon. Ketiganya peserta dari Partai Sosialis Malaysia (PSM) yang sedang melihat aksi itu dengan detail.

Dikarenakan ada satu peserta yang tidak membawa kartu APF, maka kemudian kepolisian meminta ketiganya untuk ikut ke kantor intelkam Polda Metro Jaya dengan alasan mau diminta keterangan dan data-datanya. Karena setelah negosiasi mereka (polisi) tetap ngotot, maka kita pun kemudian mendampingi ketiga kawan Malaysia ke Polda Metro Jaya.

-Pukul 16.40 WIB

Massa aksi membubarkan diri untuk bersolidaritas terhadap kawan Malaysia yang dibawa ke kantor polisi.

-Pukul 17.20 WIB

Kita sampai di kantor Polda metro jaya di bagian intelkam pengawasan orang asing.

-Pukul 17.30 WIB

Kami semua menunggu dan mendaping kawan Malaysia yang diminta keterangan oleh pihak kepolisian subdit intelkam pengawasan orang asing, kemudian mereka digeledah dan diminta keterangan sampai barang yang ada di tas berupa buku, brosur, dikeluarkan dan foto yang ada di HP juga diperlihatkan.

-Pukul 20.00 WIB

Kawan pendamping dari KontraS datang.

-Pukul 20.30 WIB

Kawan-kawan malaysia dibebaskan dan kami pun bubar dari kantor intelkam Polda metro Jaya setelah sekitar 4 jam menunggu.

(lrn/Ari)

Follow twitter @detikcom dan gabung komunitas detikcom di facebook

Tutup

  Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

  Share via Email:

Share via Email


loadingSending your message

Message has successfully sent


Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen