Rabu, 6 April 2011

Sindikasi welcomepage.okezone.com

Sindikasi welcomepage.okezone.com


Pemerintah Tambah Impor Daging Sapi 22 Ribu Ton

Posted: 06 Apr 2011 01:22 AM PDT

JAKARTA - Menteri Pertanian Suswono akan menambah kuota daging impor sebesar 22 ribu ton lantaran wacana swasembada daging sampai saat ini tidak terealisasinya.

Suswono menjelaskan dari data produksi sapi saat ini yang mencapai 12 juta ekor, seharusnya Indonesia sudah bisa swasembada daging. Namun, pada kenyataannya, itu belum terbukti.

"Makanya, jangan-jangan produksi kita kurang dari itu. Jadi, setelah sensus sapi, Juni nanti, baru kita tahu berapa produksi sapi kita," kata Suswono kala ditemui di kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (6/4/2011).

Dengan demikian, jelas dia pemerintah telah menaikkan batas tolerasi impor daging sapi tahun ini sebesar 22 ribu ton, kuota daging impor bertambah menjadi 72 ribu ton dari sebelumnya 50 ribu ton.

"Tahun ini target  impor daging kita 25 persen dari kebutuhan, secara bertahap kita kurangi. Sampai saat ini, realisasi impor daging sudah mencapai  26.000 ton," kata Suswono.

Seiring dengan kenaikan kuota, Kementerian Pertanian bakal memerketat pengawasan impor daging sapi. Di samping akan mengontrol setiap bulan, Kementerian Pertanian juga akan mengevaluasi pelaksanaan impor tiap tiga bulan sekali.

"Semisal, Importir yang dikasih izin Juli, bisa saja mereka memasukkannya di bulan awal, jadi bisa terganggu pasokan. Hal seperti ini yang akan kita kontol dan evaluasi," paparnya.(wdi)

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Hari Nelayan, Budayakan Gemar Makan Ikan!

Posted: 06 Apr 2011 01:21 AM PDT

Bukan lautan hanya kolam susu.
Kail dan jala cukup menghidupimu.
Tiada badai tiada topan kau temui.
Ikan dan udang menghampiri dirimu.

Lagu Koes Plus yang cukup tenar tersebut mengingatkan pada kehidupan orang-orang yang mata pencahariannya menangkap atau sering disebut dengan nelayan. Mungkin sedikit orang yang mengetahui jika 6 April diperingati sebagai Hari Nelayan. Hari Nelayan ini barangkali menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk sekedar berempati dengan nasib para nelayan yang hingga saat ini masih termarginalkan

Di negara yang lautannya tiga kali lebih luas dari daratannya, seharusnya nelayan Indonesia hidup sejahtera. Belum lagi kekayaan berupa ikan atau hasil laut lainnya yang berada di lautan Indonesia sangat besar. Pantaslah jika kemudian Koes Plus menyebutnya kolam susu.

Ironisnya, nelayan di negara kita masih banyak yang tergolong miskin. Departemen Perikanan mencatat, beberapa faktor penyebab kemiskinan nelayan yaitu rendahnya teknologi penangkapan, kecilnya skala usaha, belum efisiensinya sistem pemasaran hasil ikan, dan status nelayan yang sebagian besar adalah buruh.

Jika nelayan kita dibandingkan dengan nelayan di negara maju seperti Jepang sepertinya masih kalah jauh. Meski laut mereka tidak seluas laut Indonesia, mereka bisa maju karena ada dukungan yang optimal dari pemerintah. Teknologi penangkapan yang dipergunakan cukup canggih, dan satu lagi, masyarakat Jepang memiliki kegemaran makan ikan.

Membantu kesejahteraan nelayan Indonesia bukanlah hal yang sulit. Salah satu cara mudah yang bisa dlakukan masyarakat untuk menaikkan taraf hidup nelayan adalah dengan gemar makan ikan. Protein yang terkandung pada ikan lebih tinggi daripada yang tekandung pada daging ayam, sapi, dah hewan darat lainnya. Kandungan omega 3, 6, dan 9 pada ikan meningkatkan tumbuh kembang bayi, balita lebih aktif dan cerdas serta membuat daya tahan tubuh lebih kuat.

Konsumsi ikan nasional di akhir tahun 2010 mencapai 30,47 kg per kapita per tahun, meningkat dibandingkan pada 2009 yang 29,08 kg per kapita per tahun. Sedangkan standar FAO adalah 30 kg per kapita per tahun. Namun jika dibandingkan dengan negara maju lainnya kita masih jauh tertinggal. Sebagai contoh, konsumsi ikan di Jepang 110 kg per kapita per tahun, Korea Selatan 85 kg per kapita per tahun, dan Malaysia 45 kg per kapita per tahun.

Semakin tinggi tingkat konsumsi ikan tentunya akan semakin tinggi pula produktivitas ikan sehingga akan memacu nelayan untuk menaikkan nilai produktivitasnya. Cukup ironis memang masyarakat kita lebih suka makan daging darat dibanding ikan. Namun usaha untuk mengampanyekan budaya makan ikan setidaknya bisa mulai mengubah pola makan masyarakat kita.

Mari kita galakkan "Germani", Gerakan Makan Ikan, untuk kesehatan dan kecerdasan bangsa dan tentunya untuk membantu nelayan kita.

Ridwan Kharis

Mahasiswa Teknik Mesin UGM
Pegiat Forum Lingkar Pena Yogyakarta
Peserta PPSDMS Nurul Fikri

(rfa)(//rhs)

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen