Sabtu, 26 Mac 2011

detikcom

detikcom


Singapura Perluas Wilayah Larangan Impor dari Jepang

Posted: 26 Mar 2011 11:20 AM PDT

Minggu, 27/03/2011 01:20 WIB
Singapura Perluas Wilayah Larangan Impor dari Jepang 
Laurencius Simanjuntak - detikNews

Singapura - Singapura memperluas wilayah larangan impor buah dan sayuran dari Jepang menyusul ditemukannya kasus pencemaran radioaktif yang lain. Sebelumnya Singapura hanya melarang impor buah dan sayuran yang berasal dari Perfektur Ibaraki, Tochigi dan Gunma.

"Melihat perkembangan terakhir, Otoritas Makanan dan Kedokteran Hewan akan memperluas wilayah penghentian impor buah dan sayuran dengan memasukkan Perfektur Kanagawa, Tokyo dan Saitama," demikian pernyataan resmi dari Otoritas Makanan dan Kedokteran Hewan (AVA) Singapura seperti dikutip dari AFP, Sabtu (25/3/2011).

Dengan perluasan ini, maka buah dan sayuran dari seluruh wilayah Kanto dilarang masuk Singapura. Kebijakan ini diambil setelah ditemukan adanya kontaminasi radioaktif pada sampel kubis dari Kanagawa dan bawang dari Tokyo yang dibawa ke Singapura pada hari Jumat dan Sabtu.

"Kontaminasi radioaktif terdeteksi di dua sampel sayuran yang lain dari Jepang," demikian kata pernyataan tersebut.

Seperti diketahui, kekhawatiran global menyebar akibat radiasi nuklir yang dipicu oleh rusaknya PLTN Fukushima setelah gempa dan tsunami melanda Jepang 11 Maret lalu. Selain Singapura, beberapa negara seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Australia dan Korea Selatan juga memberlakukan larangan impor makanan tertentu dari wilayah yang terkena radiasi.

(lrn/lrn)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Tutup

  Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

  Share via Email:

Share via Email


loadingSending your message

Message has successfully sent


Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Kisah Mbah Wiji yang Dijual Agen PRT ke Malaysia

Posted: 26 Mar 2011 10:31 AM PDT

Minggu, 27/03/2011 00:31 WIB
Laporan dari Kuala Lumpur
Kisah Mbah Wiji yang Dijual Agen PRT ke Malaysia 
Hery Winarno - detikNews

Kuala Lumpur - Mengulas nasib buruk TKW yang berada di negeri Malaysia seolah tak ada habisnya. Namun persoalan TKW tidak sekadar disebabkan kekerasan maupun gaji yang tidak dibayar oleh majikannya. Beberapa agen nakal pun tega melakukan penipuan kepada TKW.

Inilah yang dialami oleh Sudarwiji atau yang biasa disebut Mbah Wiji. Nenek berusia 55 tahun tidak menyangka bila dirinya ternyata telah dijual agen yang mengirimnya ke Malaysia.

"Saya sudah kerja di rumah majikan 6 bulan, tapi kalau saya minta gaji tidak dikasih. Katanya majikan, dia sudah beli saya 8500 ringgit ke agen. Saya disuruh kerja 2 tahun," ujar Wiji kepada detikcom di Rumah Kita, Jl Tun Rajak, Kuala Lumpur Malaysia, Sabtu (26/3/2011).

Semula TKW asal Kediri, Jawa Timur ini tidak percaya bahwa ia telah dijual oleh Agen yang membawa ke Malaysia. Namun setelah berada di penampungan Rumah Kita, ia baru diberitahu teman-teman lainnya bahwa ia telah dijual. Modus yang sama juga menimpa TKW lainnya.

"Sayakan sudah tua, mosok masih payu (laku). Ya saya tidak percaya, tapi kok katanya yang kaya saya ini banyak. Saya dijual jadi pembantu sama agen," terang Wiji.

Awal kedatangan Wiji ke Malaysia karena diajak oleh seseorang bernama Pak Ambu, yang merupakan tetangga desanya. Wiji dijanjikan akan bekerja di Malaysia sebagai PRT dengan upah 5000 sampai 6000 ringgit perbulan.

"Saya sudah sakit-sakitan, tangan saya sering mati rasa, tapi kalau minta pulang ke Indonesia dibilang, saya harus bayar 8500 Ringgit. Karena majikan saya bayar saya segitu untuk dua tahun. saya sudah tidak kuat lagi kerja," tutur Wiji sambil mengelus dadanya.

Proses kedatangannya ke Malaysia pun terhitung menyedihkan. Bila TKW berangkat dengan menggunakan pesawat terbang, Wiji harus rela dengan menggunakan kapal laut. Wiji semula diberangkatkan dari Surabaya menuju Medan, Sumatera Utara. Setelah itu, Wiji kembali melanjutkan perjalan ke Malaysia dengan menggunakan kapal laut dari Batam.

Oleh seseorang yang mengajaknya ke Malaysia, semua data diri dirubah termasuk umurnya dipalsukan menjadi 48 tahun. Proses pembuatan foto untuk paspor juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

"Waktu di kapal, saya juga disuruh pura-pura tidak kenal saya yang ngajak saya. Saya cuma disuruh diam saja di bawah, saya nurut saja, soalnya katanya harus begitu," kenang Wiji saat mulai meninggalkan tanah air.

Agen yang membawa Wiji kemudian menulis sebuah alamat di secarik kertas. Sang Agen berpesan, bila telah sampai di Malaysia dan ditanya petugas, Wiji diminta mengaku akan menjenguk anaknya yang telah bekerja dan mempunyai istri warga Malaysia.

"Tapi pas ditanya petugas Malaysia, saya bingung karena petugas nanya siapa nama anak saya dan istrinya. Saya tidak bisa jawab dan mau nangis karena saya tidak dikasih tahu siapa nama anak saya dan istrinya, saya cuma ngasih kertas alamat saja," kenang mbah Wiji sambil menitikan air mata.

Saat dirinya dimintai keterangan oleh petugas imigrasi Malaysia, agen yang membawa tidak diketahui dimana. Wiji pun tidak bisa berbuat banyak selain meminta belas kasihan kepada petugas, bahwa ia mau ke Malaysia untuk menemui anaknya.

Dengan berbekal paspor kunjungan, akhirnya petugas tersebut meloloskan Wiji. Setelah lolos, baru agen yang membawanya tersebut menghampirinya dan mengajaknya ke Kuala Lumpur.

"Saya disuruh diam, saya cuma dikasih roti tawar. Terus saya ditempatkan di rumah majikan," kenang Wiji.

Namun setelah di rumah majikan, nasib baik pun tak mengunjungi Wiji. Makian dan kekerasan kerap ia terima dari keluarga sang majikan. Bahkan dalam sehari, Wiji mengaku hanya diberi jatah makan satu kali, saat makan siang.

"Saya sudah putus asa, sudah pengen bunuh diri terus, karena minta pulang tidak dikasih. Tangan saya  ini kalau kerja sering sakit, tapi majikan tidak percaya terus, saya cuma bisa nangis sambil berdoa. Wolo-wolo kuato gusti Allah," sebut Wiji.

Hingga suatu siang, Wiji diajak majikannya lalu diturunkan di sebuah tempat. Wiji dibuang begitu saja di tengah belantara kota Kuala Lumpur.

"Saya ditinggal jam 11.00 siang, saya bingung tidak tahu mesti kemana. Saya cuma jalan terus saja, tidak tahu kemana. Terus saya ketemu perempuan yang kasihan sama saya karena saya jalan sambil nangis. Saya terus dianterin ke sini (KBRI), sampai sini jam 8 malam," kenang Wiji.

Kini Wiji sudah berada di Rumah Kita, penampungan sementara bagi para TKW. Wiji dan 40 rekan lainnya saat ini sedang menunggu putusan dari Jabatan Mahkamah Tenaga Kerja Malaysia. Wiji, melalui KBRI sedang menuntut gaji yang merupakan haknya selama bekerja di rumah sang majikan.

"Kapok mas, saya sudah tidak pengen lagi ke sini, saya mau di rumah saja. Saya juga mau laporkan ke polisi pak Ambu yang sudah ngajak saya ke Malaysia. Saya jadi sengsara di sini,beda sama janjinya dulu," imbuhnya.

(her/lrn)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Tutup

  Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

  Share via Email:

Share via Email


loadingSending your message

Message has successfully sent


Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan